| Membangun Konsep Diri yang Positif |
|
|
|
| Oleh Ali Hisyam, S.Sos.I |
| Jumat, 16 April 2010 00:00 |
|
Pakde, sebutlah begitu namanya, adalah kandidat doktor yang dikenal sebagai seorang dosen dan pejabat struktural yang cukup otoriter. Akhir-akhir ini, menjelang pengukuhannya sebagai doktor, Pakde menjadi sangat sensitif dan mudah naik pitam bila menguji skripsi mahasiswa. Hal ini biasanya terjadi karena terdapat perbedaan pendapat dengan dosen penguji yang lain. Di luar sidang (skripsi) ia sempat mengatakan, “Dari dulu saya selalu harus kalah, sekarang saya nggak mau ngalah lagi.” Menyedihkan sekali, persoalan ilmiah harus diselesaikan dengan sikap “pokoknya harus menang!” Sementara di tempat yang lain, Ani (14 tahun), siswi kelas 1 SLTP, cukup membuat guru BP (bimbingan dan penyuluhan) kewalahan. Bukan karena bandel, melainkan karena prestasi belajarnya yang sangat rendah (dua kali tidak naik kelas) dan sangat menutup diri terhadap teman maupun guru. Dua kasus di atas tampak bertentangan, yang satu agresif, yang lain sangat pasif dan depresif. Meski demikian, sebenarnya persoalan utamanya sama, yaitu konsep diri (self-concept) yang negatif. Konsep Diri Konsep diri merupakan gambaran seseorang tentang dirinya. Secara lengkap konsep diri dapat diartikan sebagai perasaan, persepsi, dan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Evaluasi terhadap aspek-aspek diri tersebut terbentuk dari pengalaman seseorang dalam interaksi dengan orang lain sepanjang perjalanan hidupnya. Bagaimana respon atau umpan balik apa yang diperoleh dari orang-orang terdekat (significant others) dan lingkungan sosialnya, sangat menentukan bagaimana gambaran seseorang terhadap dirinya. Positif dan Negatif Apabila seseorang mengenali dirinya dengan baik dan dapat memahami (menerima) sejumlah fakta yang bervariasi mengenai dirinya (kelebihan, kekurangan, dapat menerima diri apa adanya), berarti ia memiliki konsep diri yang positif. Dengan menerima diri sendiri, seseorang akan mudah pula menerima orang lain. Selain itu, ia akan merancang tujuan-tujuannya secara realistis (sehingga lebih mungkin berhasil), lebih berani dan spontan dalam bertindak, memperlakukan orang lain dengan hangat dan hormat. Baginya, hidup itu menyenangkan. Sebaliknya ,bila pandangan individu tentang dirinya sendiri tidak teratur, tak merasa sebagai pribadi yang stabil dan utuh, tidak mengetahui hakikat dirinya, apa kekuatan dan kelemahannya, atau di sisi lain justru terlalu stabil dan terlalu kaku (membangun citra diri yang kaku, tidak boleh menyimpang), berarti ia memiliki konsep diri yang negatif. Solusi Kasus Seperti telah disebutkan di atas, konsep diri merupakan hasil pengalaman seseorang dalam interaksi sosial. Di sisi lain, berdasarkan karakteristik konsep diri positif dan negatif dapat pula dilihat bahwa konsep diri sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Pada kasus Ani yang sangat tertutup, psikolog yang menangani menemukan bahwa ia memiliki konsep diri yang sangat negatif. Ketika psikolog tersebut mengajaknya untuk menggali sisi-sisi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, Ani dengan sangat mudah menuliskan sisi-sisi negatif dirinya. Sebaliknya, ia sama sekali tidak mampu melihat sisi positif atau kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Meski demikian, setelah melalui dua kali konseling dengan fokus mengenali sisi-sisi positif yang dimiliki, menyentuh aspek spiritual (cinta Tuhan), dan petunjuk-petunjuk praktis untuk mengembangkan keterampilan sosial, akhirnya Ani berhasil mengembangkan keterampilan sosialnya. Guru BP memberikan pernyataan puas dengan perkembangan yang tampak pada Ani. Dalam kasus Pakde, seorang rekan kerjanya yang cukup mengenal pribadinya tahu persis bahwa tindakan norak Pakde dalam ujian skripsi mahasiswa tersebut adalah karena konsep diri yang negatif. Ia termasuk orang yang kaku. Dengan latar belakang bidang studi berbeda dengan yang ditekuni sekarang, ia merasa tidak cakap. Namun, ia tak mau diremehkan kolega yang notabene adalah anak buahnya. Untunglah ada seorang “korban” yang arif bijaksana. Rekan Pakde itu, meski gagasannya benar namun diserang habis-habisan di depan mahasiswa, tetap bersikap sabar sampai berhasil meyakinkan Pakde bahwa pendapatnya benar. Akhirnya Pakde merasa malu, dan lebih mengendalikan diri dalam kesempatan-kesempatan berikutnya. Perubahan Pakde ini terjadi karena rekan tersebut di samping menyodorkan fakta (literatur) yang dapat diandalkan, sekaligus menanamkan keyakinan-keyakinan kepada Pakde bahwa bagaimanapun Pakde bukan orang yang layak diremehkan (juga dengan fakta). Rekan tersebut betul-betul telah mengenali dirinya sendiri, mampu menghargai dirinya sendiri, dan mampu pula menghargai orang lain. Dan dengan demikian ia bahkan bisa menolong orang lain. Real Self dan Ideal Self Carl Rogers, seorang tokoh psikologi humanistik, menjabarkan bahwa dalam perkembangannya seseorang membangun dua jenis self, yaitu real self (seperti apa kepribadianku dan bagaimana orang lain memandangku saat ini) dan ideal self (diriku yang aku inginkan; konsep tentang diri sendiri yang ideal). Perkembangan kepribadian terjadi bila individu merasakan ketidaksesuaian (kesenjangan) antara real self dengan ideal self. Ada kemungkinan seseorang dapat mengakui dan menerima adanya kesenjangan antara real self dengan ideal self. Namun, dapat juga terjadi bahwa kesenjangan tersebut tidak diakui. Nah, mari kita lakukan seruan “Gnote Seauton” (kenalilah diri sendiri), dan terima apa adanya! Karena hanya dengan bisa menerima, interaksi dengan orang lain menjadi lebih produktif dan kepribadian dapat berkembang optimal.
Ditulis Oleh : Ali Hisyam, S.Sos.I |